Advertisement

Kalimat Majemuk

1. PENGERTIAN

Kalimat majemuk adalah kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih (Keraf, 1984:167). Sebagai contoh: Ayah menulis surat sambil adik berdiri di sampingnya, pola kalimat yang pertama adalah ayah menulis surat dan pola kalimat yang kedua adalah adik berdiri di sampingnya. Pengertian yang dikemukakan oleh Keraf tidak jauh beda dengan pendapat Chaer (1994: 243) tentang pengertian kalimat majemuk, yaitu sebuah kalimat yang di dalamnya terdapat lebih dari satu klausa. Sedangkan menurut Jamiludin (1994: 62), kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua kalusa atau lebih. Pengertian yang agak berbeda dari pengertian-pengertian sebelumnya dikemukakakan oleh Alwi dkk (1998: 385), yaitu kalimat yang mengandung satu klausa atau lebih yang hubungan antarklausanya ditandai dengan kehadiran konjungtor (kata hubung) pada awal salah satu klausa tersebut dengan adanya pelesapan bagian dari klausa khususnya subjek. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Pembangunan akan berjalan dengan lancar jika segenap lapisan masyarakat turut aktif mengambil bagian.

(2) Panglima Angkatan Bersenjata mengatakan bahwa mereka yang mengganggu keamanan akan ditindak tegas.

(3) Engkau harus menjadi orang pintar, harus tetap beribadat supaya mendapat rezeki yang bersih dan halal.

(4) Kami akan naik haji sesudah menikah.

Pada kalimat (1), klausa pembangunan akan berjalan dengan lancar dihubungkan dengan klausa segenap lapisan masyarakat turut aktif mengambil bagian dengan memperguankan konjungtor jika. Pada kalimat (2) hubungan antarkalusa ditandai oleh bahwa. Kalimat (3) terdiri atas tiga klausa, yaitu (i) engkau harus menjadi orang pintar, (ii) (engkau) harus tetap beribadat, dan (iii) (engkau) mendapat rezeki yang bersih dan halal. Subjek ketiga klausa itu sama, yaitu engkau. Klausa pertama dan kedua (bersama klausa ketiga) dipisahkan dengan tanda koma. Klausa kedua dan ketiga dihubungkan oleh konjungtor supaya. Pada kalimat (4) subjek kami juga dihilangkan setelah kata sesudah karena subjek klausa itu sama dengan subjek klausa utamanya.

2. MACAM-MACAM KALIMAT MAJEMUK

Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa di dalam kalimat majemuk, maka dalam hal ini dibedakan adanya kalimat majemuk koordinatif (lazim juga disebut kalimat majemuk setara), kalimat majemuk subordinatif (lazim juga disebut kalimat majemuk bertingkat), dan kalimat majemuk kompleks (kalimat majemuk campuran).

2.1 Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, yang setara, atau yang sederajat (Chaer, 1994: 243). Menurut Alwi dkk (1998: 386), koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang setara dalam struktur konstituen kalimat. Hasilnya adalah satuan yang sama kedudukannya dalam kalimat majemuk setara. Sedangkan menurut Jamiludin (1994: 62), kalimat majemuk setara adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa yang hubungannya setara. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk setara merupakan klausa utama. Klausa satu dengan lainnya dihubungkan dengan kata penghubung atau yang disebut koordinator. Itulah sebabnya kalimat majemuk setara disebut juga kalimat koordinasi atau gabung.

Konjungtor yang digunakan untuk menyusun hubungan koordinasi, yaitu dan, atau, tetapi, serta, lalu, kemudian, lagipula, hanya, padahal, sedangkan, baik… maupun, tidak… tetapi…., dan bukan(nya)… melainkan…. (Alwi dkk,1998: 388). Perhatikan beberapa contoh berikut ini.

(1) Anda datang ke rumah saya atau saya datang ke rumah Anda.

(2) Ia segera masuk ke kamar lalu berganti pakaian.

(3) Polisi telah memberi tembakan peringatan, tetapi penjahat itu tetap tidak mau menyerah.

(4) Orang tua gadis itu sedih sekali serta kecewa terhadap kelakuan anaknya.

(5) Saya memberitahukan hal itu kepada anak-anak kemudian segera kembali ke kantor.

(6) Koperasi karyawan itu dikelola secara profesional, lagipula modalnya sangat kecil.

(7) Dia bukannya sakit, melainkan malas saja.

(8) Mereka tidak marah, hanya kecewa terhadap perlakuannya.

(9) Dia di kawasan industri, hanya saja dia tidak pernah bekerja di sana.

(10) Duna masih sering pulang malam, atau malah pagi buta.

2.2 Kalimat Majemuk Bertingkat

Menurut Chaer (1994: 244), kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang hubungan antarklausanya tidak setara atau sederajat. Klausa yang satu merupakan klausa atasan dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan. Kalimat majemuk bertingkat menurut Keraf (1984: 169) adalah kalimat yang hubungan pola-polanya tidak sederajat. Salah satu pola (atau lebih) menduduki fungsi tertentu dari pola lain. Bagian yang lebih tinggi kedudukannya disebut induk kalimat, sedangkan bagian yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat. Sedangkan Jamiludin (1994:63) berpendapat bahwa kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat tunggal yang diperluas dan perluasan itu membentuk klausa baru. Hubungan antarklausa disambung dengan subordinator. Itu sebabnya kalimat majemuk bertingkat disebut juga kalimat subordinasi.

Konjungtor yang digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat dapat dikelompokkan sebagai berikut.

  1. Konjungtor waktu: setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga, sampai
  2. Konjungtor syarat: jika, kalau, jikalau, asalkan, bila, manakala
  3. Konjungtor pengandaian: andaikan, seandainya, andaikata, sekiranya
  4. Konjungtor tujuan: agar, supaya, biar
  5. Konjungtor konsesif: biarpun, meskipun, sungguhpun, sekalipun, walaupun, kendatipun
  6. Konjungtor pembandingan atau kemiripan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, bagaikan, laksana, daripada, alih-alih, ibarat
  7. Konjungtor sebab atau alasan: sebab, karena, oleh karena
  8. Konjungtor hasil atau akibat: sehingga, sampai(-sampai)
  9. Konjungtor cara: dengan, tanpa
  10. Konjungtor alat: dengan, tanpa

Perhatikan contoh berikut.

  1. Partisipasi masyarakat terhadap program keluarga berencana meningkat sesudah mereka menyadari manfaat keluarga kecil.
  2. Jika masyarakat menyadari pentingnya program keluarga berencana, mereka pasti mau berpartisipasi dalam menyukseskan program tersebut.
  3. Andaikan saya memperoleh kesempatan, saya akan mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya.
  4. Anda harus berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat berhasil dengan baik.
  5. Meskipun usianya sudah lanjut, semangat belajarnya tidak pernah padam.
  6. Saya memahami keadaanya dirinya sebagaimana ia memahami keadaan diriku.
  7. Proyek perbaikan kampung itu berhasil karena mendapat dukungan dari masyarakat.
  8. Ledakan bom mobil itu demikian hebatnya sehingga meruntuhkan atap gedung-gedung di sekitar kejadian.
  9. Petani berusaha meningkatkan hasil panennya dengan menggunakan bibit unggul, pemupukan, irigasi, pemberantasan hama, dan penerapan teknologi pascapanen yang tepat.

Menurut Alwi dkk (1998: 391) kalimat majemuk bertingkat dapat disusun dengan memperluas salah satu fungsi sintaksisnya (fungsi S, P, O, dan Ket) dengan klausa. Perluasan itu dilakukan dengan menggunakan yang. Perhatikan kalimat-kalimat berikut.

(1) Paman saya yang tinggal di Bogor meninggal kemarin.

(2) Paman saya guru, yang mengajar di beberapa sekolah.

Konsep perluasan unsur kalimat ini dibicarakan secara luas oleh Alisjahbana (1983). Beliau menyatakan semua unsur kalimat dapat diperluas untuk dijadikan anak kalimat, sehingga muncullah istilah anak kalimat pengganti subjek, anak kalimat pengganti predikat, dan sebagainya (Chaer, 1994: 245). Jamiludin (1994: 64) membagi kalimat majemuk bertingkat menjadi 12 macam menurut klausa sematannya atau anak kalimatnya sebagai berikut.

  1. Anak kalimat pengganti keterangan waktu, contohnya: Sejak aku diserahkan orang tua kepada nenek, aku tidur di atas dipan di kamar nenek.
  2. Anak kalimat pengganti keterangan syarat, contohnya: Jika anda mau mendengarkannya, saya tentu akan senang sekali.
  3. Anak kalimat pengganti keterangan konsesif, contohnya: Walaupun hatinya sedih, dia tidak pernah menangis di hadapanku.
  4. Anak kalimat pengganti keterangan tujuan, misalnya; Nenekku bercerita tentang para ksatria agar aku mempunyai keberanian seperti ksatria itu.
  5. Anak kalimat pengganti keterangan perbandingan, contohnya: Daripada menganggur, cobalah engkau bekerja di kebun saya.
  6. Anak kalimat pengganti keterangan sebab, contohnya: Keadaan menjadi genting sebab musuh akan melancarkan aksinya.
  7. Anak kalimat pengganti keterangan akibat, contohnya: Biaya pengobatan sangat mahal sehingga semua perhiasan istrinya habis terjual.
  8. Anak kalimat pengganti keterangan cara, misalnya: Ia mencoba bertahan dengan kedua tangannya menutup wajahnya.
  9. Anak kalimat pengganti keterangan sangkaan, contohnya: Dia diam seakan-akan dia tidak mengetahui masalah itu.
  10. Anak kalimat pengganti keterangan objek, contohnya: Dia berkata bahwa isi buku ini belum sempurna.
  11. Anak kalimat pengganti keterangan predikat, contohnya: Orang itu kelakuannya tercela.
  12. Anak kalimat pengganti keterangan subjek, contohnya: Barang siapa menggali lubang, pasti terperosok ke dalamnya.

Selain itu, kalimat majemuk bertingkat dapat pula disusun dengan menggabungkan dua buah klausa atau lebih dimana klausa yang satu dianggap sebagai klausa atasan atau klausa utama (dalam peristilahan tradisional disebut induk kalimat), sedangkan yang lain disebut klausa bawahan (dalam peristilahan tradisional disebut anak kalimat) (Chaer, 1994: 243), contohnya: Nenek membaca komik ketika kakek tidak ada di rumah berasal dari klausa nenek membaca komik dan kakek tidak ada di rumah. Lalu, kedua klausa itu digabungkan dengan klausa nenek membaca komik sebagai klausa utama dan kakek tidak ada di rumah sebagai klausa bawahan; dan keduanya mempunyai hubungan kewaktuan, yakni waktu yang sama. Hal ini berbeda dengan yang dikemukakan oleh Alwi dkk (1998: 392) mengenai proses terbentuknya kalimat majemuk bertingkat. Menurut mereka kalimat majemuk bertingkat terbentuk bila dua proposisi diperbandingkan, satu dinyatakan pada klausa utama dan satunya lagi pada klausa subordinatif. Klausa subordinatif ini disebut klausa perbandingan. Klausa perbandingan biasanya dibentuk dengan menggunakan bentuk lebih atau kurang bersama-sama dengan konjungtor dari(pada), dan sama… dengan. Perhatikan contoh berikut.

(1) Dia bekerja lebih lama daripada istrinya (bekerja).

(2) Kapitalisme sama berbahayanya dengan komunisme.

Pola-pola struktur kalimat majemuk bertingkat menurut Suparno (1991: 60) adalah sebagai berikut.

  1. Kalimat majemuk bertingkat terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan yang berstatus sebagai atribut subjek, contoh: Persoalan bahwa produksi harus dibatasi telah membuat para pengusaha kehilangan gairah.
  2. Kalimat majemuk bertingkat terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan yang berstatus sebagai atribut predikat, contohnya: Dia itu seorang pengusaha yang memiliki sejumlah perusahaan besar.
  3. Kalimat majemuk bertingkat terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan yang berstatus sebagai atribut dalam fungsi objek, contoh: Kami mendapatkan informasi bahwa SPP akan dinaikkan.
  4. Kalimat majemuk bertingkat terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan yang berstatus sebagai atribut dalam funsi pelengkap, misalnya: Ika membuatkan adiknya pertanyaan yang sukar dijawab.
  5. Kalimat majemuk bertingkat terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan yang berstatus sebagai atribut dalm fungsi keterangan, contoh: Penonton sudah datang di lapangan tempat pertandingan itu berlangsung.
  6. Kalimat majemuk bertingkat terdiri dari klausa inti dan klausa bawahan yang berstatus sebagai sumbu dalam fungsi keterangan, contoh: Keluarga berencana akan selalu dilaksanakan selama pertumbuhan penduduk harus ditekan.

2.3 Kalimat Majemuk Campuran

Kalimat majemuk jenis ini terdiri dari tiga klausa atau lebih, dimana ada yang dihubungkan secara koordinatif dan ada pula yang dihubungkan secara subordinatif. Jadi, kalimat ini merupakan campuran dari kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Contohnya dalam kalimat: Nenek membaca komik karena kakek tidak ada di rumah dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan, terdiri dari tiga buah klausa, yaitu (1) nenek membaca komik, (2) kakek tidak ada di rumah, dan (3) tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Klausa (1) dan kalusa (2) dihubungkan secara subordinatif; klausa (2) dan klausa (3) dihubungkan secara koordinatif (Chaer, 1994: 247).

Dalam praktek berbahasa, lebih-lebih pada bahasa tulis, penggunaan kalimat kompleks ini sangat umum; apalagi dalam karangan yang bersifat keilmuan. Jumlah klausa yang digunakan pun dalam satu kalimat bukan hanya dua atau tiga buah, melainkan bisa lebih dari itu. Dalam makalah ini kalimat majemuk campuran tidak dibahas lebih lanjut karena dasarnya adalah kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

3. CIRI-CIRI HUBUNGAN KOORDINASI DALAM KALIAMT MAJEMUK SETARA

3.1 Ciri-ciri Sintaksis Hubungan Koordinasi

Menurut Alwi (1998: 393) ada empat penanda sintaksis hubungan koordinasi.

  1. Hubungan koordinasi menggabungkan dua klausa atau lebih. Di samping itu, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor koordinatif dapat berupa kalimat majemuk. Contoh: Saya mengetahui kedatangannya, tetapi tidak mengetahui tujuan serta maksud kedatangannya.
  2. Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh koordinator dan, atau, dan tetapi tidak dapat diubah. Apabila posisinya diubah, perubahan itu mengakibatkan munculnya kalimat majemuk setara yang tidak berterima. Contoh:

(1) Dalam pengungsian itu saya sering melihat orang ditembak musuh dan mayatnya dibuang begitu saja.

*Dan mayatnya dibuang begitu saja, dalam pengungsian itu saya sering melihat orang ditembak musuh.

(2) Saudara harus meminjam uang dari bank atau menjual rumah Saudara.

*Atau menjual rumah untuk memperoleh uang tunai, Saudara harus meminjam uang dari bank.

  1. Urutan klausa yang tetap dalam hubungan koordinasi berhubungan erat dengan pronominalisasi. Acuan kataforis (pronomina yang mendahului nomina yang diacunya) tidak diperoleh dalam hubungan koordinatif. Sebagai contoh: Dia suka lagu keroncong, tetapi Hasan tidak mau membeli kaset itu. Dalam kalimat tersebut, pronomina dia tidak mengacu pada Hasan. Walaupun kalimat itu berterima, hubungan antara pronomina dia dan nomina Hasan bukanlah hubungan kataforis.
  2. Sebuah koordinator dapat didahului oleh koordinator lain untuk memperjelas atau mempertegas hubungan antara kedua klausa yang digabungkan. Perhatikan kalimat berikut ini.

(1) Sidang mempertimbangkan usul salah seorang peserta dan kemudian menerimanya dengan suara bulat.

(2) Terdakwa itu tidak menunjukkan penyesalannya dan malah mengancam hakim yang memimpin sidang.

Penggunaan koordinator kemudian sesudah koordinator dan pada kalimat (1) adalah untuk lebih memperjelas gabungan klausa yang menunjukkan hubungan waktu dan penggunaan koordinator malah sesudah dan dalam kalimat (2) adalah untuk lebih menekankan hubungan klausa yang menunjukkan penguatan atau penegasan.

Menurut Ibrahim dkk (-, 102), hubungan koordinasi antarklausa dalam kalimat majemuk setara ditandai adanya penanda sintaksis berikut ini. Pertama, adanya konjungsi koordinasi, di antaranya dan, atau, atau tetapi. Contoh: Bapaknya mengajar di SMA 2 Malang dan ibunya mengajar di SMP 1 Malang. Kedua, posisi klausa yang diawali konjungsi koordinasi tidak dapat diletakkan di awal kalimat. Apabila klausa yang diawali konjungsi koordinasi diletakkan di awal kalimat akan menghasilkan kalimat yang tidak berterima, contohnya: Dan ibunya mengajar di SMP 1 Malang, bapaknya mengajar di SMA 2 Malang*.

3.2 Ciri-ciri Semantis Hubungan Koordinasi

Menurut Alwi dkk (1998: 397) ciri semantis dalam hubungan koordinasi ditentukan oleh makna dari macam koordinator yang dipakai dan makna leksikal ataupun gramatikal dari kata dan klausa yang dibentuk. Koordinator dan, misalnya, menyatakan gabungan antarklausa. Sebaliknya, koordinator tetapi menyatakan pertentangan. Makna leksikal dari frasa putus asa dan bunuh diri pada contoh di bawah ini menyatakan hubungan sebab-akibat.

Orang itu putus asa dan bunuh diri.

4. CIRI-CIRI HUBUNGAN SUBORDINASI DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT

4.1 Ciri-ciri Sintaksis Hubungan Subordinasi

Ada tiga ciri sintaksis dalam hubungan subordinatif menurut Alwi dkk (1998: 395).

a. Subordinasi menghubungkan dua klausa yang salah satu diantaranya merupakan bagian dari klausa yang lain. Di samping itu, salah satu klausa yang dihubungkan oleh konjungtor subordinatif dapat pula berupa kalimat majemuk. Perhatikan contoh berikut ini.

Ketua partai itu tatap menyatakan kebanggaannya karena ternyata partainya masih dapat meraih hampir empat belas juta suara pemilih setelah suara itu dihitung ulang.

b. Pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh subordinator dapat berubah. Perhatikan contoh kalimat berikut ini.

(1) Para pejuang itu pantang menyerah selama hayat dikandung badan.

(2) Selama hayat dikandung badan, para pejuang itu pantang menyerah.

c. Hubungan subordinatif memungkinkan adanya acuan kataforis. Dalam kalimat di bawah ini pronomina dia dapat mengacu pada nomina nama diri Hasan walaupun tidak harus demikian.

Walaupun dia suka lagu keroncong, Hasan tidak mau membeli kaset itu.

Sedangkan menurut Ibrahim dkk (-, 106), ciri- ciri hubungan subordinasi antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat adalah sebagai berikut.

a. Ditandai adanya konjungsi subordinasi, misalnya ketika, sejak, karena, setelah, bahwa, dan sebagainya. Contoh: Orang tua itu sudah menyadari bahwa anaknya sering bekerja di luar kota.

b. Klausa yang diawali konjungsi subordinasi dapat diletakkan di awal kalimat. Contoh: Bahwa anaknya sering bekerja di luar kota, orang tua itu sudah menyadari.

c. Pada umumnya kehadiran konjungsi subordinasi dalam hubungan subordinasi bersifat wajib. Apabila konjungsi subordinasi itu dilesapkan, hubungan subordinasi itu dapat berubah menjadi hubungan koordinasi seperti tampak pada contoh berikut ini.

(1) Sejak saya putus dengannya, dia tidak pernah menyapa saya lagi.

Saya putus dengannya, dia tidak pernah menyapa saya lagi.

(2) Ibunya memasak ketika anaknya pulang dari sekolah.

Ibunya memasak, anaknya pulang dari sekolah.

4.2 Ciri-ciri Semantis Hubungan Subordinasi

Secara semantis, klausa yang mengikuti konjungsi subordinasi memuat informasi atau pernyataan yang dianggap sekunder oleh pemakai bahasa, sedangkan klausa yang lain memuat pesan yang utama. Di samping itu, karena klausa yang mengikuti konjungsi subordinasi itu bersifat melengkapi atau menerangkan klausa yang lain, maka secara semantis klausa itu dapat disubstitusi dengan frasa yang menduduki fungsi keterangan atau komplemen klausa yang lain (Ibrahim dkk, -: 108). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Alwi dkk (1998: 397) mengenai ciri-ciri semantis hubungan subordinasi. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Pemuda itu bunuh diri karena putus dengan pacarnya.

(2) Dia menyatakan bahwa ia mencintai anak Haji Rahmat.

Dia menyatakan hal itu.

Pada kalimat (1) pesan atau informasi klausa pertama lebih diutamakan daripada klausa kedua. Dengan kata lain, matinya pemuda itu lebih diutamakan, sedangkan putus dengan pacarnya dianggap sebagai keterangan tambahan. Sedangkan pada kalimat (2) klausa bahwa ia mencintai anak Haji Rahmat menggantikan frasa hal itu.

5. HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK SETARA

Berdasarkan arti koordinatornya, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk setara ada tiga macam: (a) hubungan penjumlahan, (b) hubungan perlawanan, dan (c) hubungan pemilihan. Tiap hubungan itu berkaitan erat dengan koordinatornya.

5.1 Hubungan Penjumlahan

Yang dimaksud dengan hubungan penjumlahan ialah hubungan yang menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, atau proses (Alwi, 1998: 400). Hubungannya ditandai oleh kata sambung dan,serta,atau baik… maupun. Berdasarkan konteksnya, makna hubungan penjumlahan dapat menyatakan (a) sebab-akibat, (b) urutan waktu, (c) pertentangan, dan (d) perluasan.

a. Penjumlahan yang Menyatakan Sebab-Akibat

Dalam hubungan seperti ini, klausa kedua merupakan akibat dari klausa pertama. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Sudah sebulan kami mengarungi laut dan kami amat merindukan daratan yang sejuk serta kehidupan yang normal.

(2) Pada hari yang naas itu, gempa menggoncang bumi dan rumah-rumah jadi berantakan.

b. Penjumlahan yang Menyatakan Urutan Waktu

Klausa kedua merupakan urutan dari peristiwa yang terjadi pada klausa pertama. Koordinator yang dipakai antara lain dan, kemudian, dan lalu. Perhatikan contoh berikut.

(1) Ibu hanya mengangguk-angguk dan air matanya terus mengalir.

(2) Dia mengambil handuk yang tergantung di kamar nenek kemudian masuk ke kamar mandi.

c. Penjumlahan yang Menyatakan Pertentangan

Makna klausa kedua menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan makna yang dinyatakan dalam klausa pertama. Perhatikan contoh berikut.

(1) Ia selalu makan yang enak-enak, sedangkan anak dan istrinya kelaparan.

(2) Rambutnya sudah banyak yang putih, padahal ia masih muda.

d. Penjumlahan yang Menyatakan Perluasan

Makna klausa kedua memberi keterangan tambahan untuk kelengkapan informasi pada klausa pertama. Perhatikan contoh berikut.

(1) Dia tetap dermawan baik saat sempit maupun saat lapang.

(2) Ujian seperti itu disebut uji bakat dan terutama mengukur kemampuan intelektual seseorang.

5.2 Hubungan Perlawanan

Yang dimaksud dengan hubungan perlawanan adalah hubungan yang menyatakan bahwa apa yang dinyatakan dalam klausa pertama berlawanan, atau tidak sama dengan apa yang dinyatakan dalam klausa kedua. Hubungan itu ditandai dengan koordinator tetapi, melainkan, dan namun. Hubungan perlawan itu dapat dibedakan atas hubungan yang menyatakan (a) penguatan, (b) implikasi, dan (c) perluasan.

a. Perlawanan yang menyatakan penguatan

Makna klausa kedua menguatkan dan menegaskan makna klausa pertama. Dalam klausa pertama biasanya terdapat tidak/bukan saja ataupun tidak/bukan hanya, tidak/bukan sekadar dan pada klausa kedua terdapat tetapi/ melainkan juga. Perhatikan contoh berikut.

(1) Masalah kemiskinan tidak hanya masalah nasional, tetapi juga masalah kemanusiaan.

(2) Dongeng bukan hanya khayalan omong kosong untuk menidurkan anak, melainkan juga suatu penghayatan terhadap budaya nasional.

b. Perlawanan yang menyatakan Implikasi

Klausa kedua menyatakan sesuatu yang merupakan perlawanan terhadap implikasi klausa pertama. Koordinator yang umumnya dipakai adalah tetapi, juga jangankan. Perbedaannya adalah bahwa jangankan tidak digunakan di antara dua klausa, tetapi di awal klausa pertama. Perhatikan contoh berikut.

(1) Suami-istri itu sudah lama menikah, tetapi belum juga dikaruniai anak.

(2) Jangankan berjalan, duduk pun belum bisa.

c. Perlawanan yang menyatakan perluasan

Makna klausa kedua memberikan informasi tambahan pada makna klausa pertama dan kadang-kadang melemahkan informasi yang terdapat pada klausa pertama. Perhatikan contoh berikut.

(1) Jepang merupakan salah satu negara termodern di dunia, tetapi modern dengan tidak melupakan tradisi lama mereka.

(2) Adat dipertahankan agar tidak berubah, tetapi unsur-unsur dari luar yang dianggap baik perlu dimasukkan.

5.3 Hubungan Pemilihan

Yang dimaksud dengan hubungan pemilihan ialah hubungan yang menyatakan pilihan di antara dua kemungkinan atau lebih yang dinyatakan oleh klausa-klausa yang dihubungkan. Koordinator yang dipakai untuk menyatakan hubungan pemilihan itu ialah atau. Hubungan pemilihan itu sering juga menyatakan pertentangan (kalimat (1)). Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Dalam keadaan seperti itu dia terpaksa membunuh musuh atau dibunuh musuh.

(2) Dia sedang melamun atau sedang memikirkan pacarnya?

6. HUBUNGAN SEMANTIS ANTARKLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT

Makna hubungan semantis antarklausa dalam kalimat luas tak setara dapat berupa hubungan waktu, hubungan syarat, hubungan tujuan, hubungan konsesif, hubungan pembandingan, hubungan sebab atau alasan, hubungan akibat, hubungan cara, hubungan penjelasan, hubungan atributif, dan hubungan optatif

6.1 Hubungan waktu

Klausa subordinatif ini menyatakan waktu terjadinya peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa utama. Hubungan waktu itu dapat dibedakan menjadi (a) waktu batas permulaan, (b) waktu bersamaan, (c) waktu berurutan, dan (d) waktu batas akhir terjadinya peristiwa atau keadaan.

a. Waktu batas permulaan

Untuk menyatakan hubungan waktu batas permulaan, dipakai subordinator seperti sejak dan sedari. Perhatikan contoh berikut.

(1) Sejak ditinggalkan oleh pacarnya ke Inggris, gadis itu selalu bermuram durja.

(2) Saya sudah terbiasa dengan hidup sederhana sedari saya masih kanak-kanak.

b. Waktu bersamaan

Hubungan waktu bersamaan menunjukkan bahwa peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa utama dan klausa subordinatif terjadi pada waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan. Perhatikan contoh berikut.

(1) Begitu dia datang, dia memelukku serta mencium pipiku.

(2) Anton menarik lengan saya seraya menunjuk ke sebuah mobil VW yang sedang diperbaiki mesinnya.

c. Waktu berurutan

Hubungan waktu beurutan menunjukkan bahwa yang dinyatakan dalam klausa utama lebih dahulu atau lebih kemudian daripada yang dinyatakan dalam klausa subordinatif. Perhatikan contoh berikut.

(1) Sanusi datang tepat pada waktunya sebelum kejemuan mampu mengubah niatku.

(2) Begitu dia masuk, terjadilah perang mulut.

d. Waktu batas akhir

Hubungan waktu batas akhir dipakai untuk menyatakan ujung suatu proses, dan subordinator yang dipakai adalah sampai atau sehingga. Perhatikan contoh berikut.

(1) Gotong royong itu berjalan dengan lancar sampai kami menyelesaikan sekolah.

(2) Tanti mengurus adik-adiknya hingga ibunya pulang dari pasar.

6.2 Hubungan Syarat

Hubungan syarat terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan syarat terlaksananya apa yang disebut dalam klausa utama. Perhatikan contoh berikut.

(1) Jika Anda mau mendengarkannya, saya tentu senang sekali menceritakannya.

(2) Hatiku bertambah ciut apabila aku teringat bahwa akulah yang termuda.

6.3 Hubungan Pengandaian

Hubungan pengandaian terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan andaian terlaksananya apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Seandainya para anggota kelompok menerima norma itu, selesailah semua permasalahan.

(2) Sudah dua hari ia tidak masuk, jangan-jangan ia sakit.

6.4 Hubungan Tujuan

Hubungan tujuan terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan suatu tujuan atau harapan dari apa yang disebut pada klausa utama. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Saya sengaja tinggal di kota kecil agar dapat mengetahui kehidupan di sana.

(2) Kami pergi biar dia bisa berbuat sesukanya.

6.5 Hubungan Konsesif

Hubungan konsesif terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya mengandung pernyataan yang tidak mengubah apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Walaupun hatinya sangat sedih, dia tidak pernah menangis di hadapanku.

(2) Siapa pun yang minta, Pak Anwar selalu bersedia memberikan sumbangannya.

6.6 Hubungan Pembandingan

Hubungan pembandingan terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan pembandingan, kemiripan, atau preferensi antara apa yang dinyatakan pada klausa utama dengan yang dinyatakan pada klausa subordinatifnya. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Pak Hamid menyayangi semua kemenakannya seperti ia menyayangi anak kandungnya.

(2) Daripda menganggur, cobalah engkau bekerja di kebunku.

6.7 Hubungan Penyebaban

Hubungan penyebaban terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan sebab atau alasan terjadinya apa yang dinyatakan dalam klausa utamanya. Perhatikan contoh berikut ini.

(1) Keadaan menjadi genting lagi karena musuh akan melancarkan aksinya lagi di Bandung.

(2) Mentang-mentang kaya, barang-barang yang tidak diperlukan pun kamu beli.

6.8 Hubungan Hasil

Hubungan hasil terdapat dalam kalimat majemuk yang klausa subordinatifnya menyatakan hasil atau akibat dari apa yang dinyatakan dalam klausa utama. Perhatikan contoh berikut ini.

(1) Perselisihan antara ayah dan ibunya makin memuncak sehingga praktis tidak ada kerukunan di dalam keluarganya.

(2) Kami tidak setuju maka kami pun protes.

6.9 Hubungan Cara

Hubungan cara terapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama. Perhatikan contoh berikut ini.

(1) Pencari intan bekerja tanpa menghiraukan bahaya di sekelilingnya.

(2) Santi mencoba bertahan dengan menghindar dari tembakan perampok itu.

6.10 Hubungan Alat

Hubungan alat terdapat pada kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan alat yang dinyatakan oleh klausa utama. Perhatikan contoh berikut ini.

(1) Dia menangkap ikan dengan mempergunakan kail.

(2) Mereka membersihkan Monas tanpa memakai peralatan modern.

6.11 Hubungan Komplementasi

Dalam hubungan komplementasi, klausa subordinatif melengkapi apa yang dinyatakan oleh verba klausa utama atau oleh nomina subjek, baik dinyatakan maupun tidak. Perhatikan contoh berikut ini.

(1) Penulis perlu menekankan di sini bahwa isi bukunya belumlah sempurna.

(2) Berkas riwayat hidupnya menunjukkan bahwa dia pernah menjadi pelajar teladan untuk tingkat kabupaten dan provinsi.

6.12 Hubungan Atributif

Hubungan atributif ditandai oleh subordinator yang. Ada dua macam hubungan atributif: (a) restriktif dan (b) takrestriktif. Klausa yang dihasilkan sering pula disebut “klausa relatif” dengan kedua macam hubungan di atas.

a. Hubungan atributif restriktif

Dalam hubungan seperti ini, klausa relatif mewatasi makna dari nomina yang diterangkannya. Perhatikan contoh berikut.

(1) Pamannya yang tinggal di Bogor meninggal kemarin.

(2) Para pedagang yang menunggak lebih dari 35 miliar rupiah akan dicekal.

b. Hubungan atributif takrestriktif

Berbeda dengan klausa yang restriktif, klausa subordinatif yang takrestriktif hanyalah memberikan sekadar tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya. Jadi, tidak mewatasi nomina yang mendahuluinya. Karena itu dalam penulisannya klausa ini diapit oleh dua tanda koma. Perhatikan contoh di bawah ini.

Istri saya, yang tinggal di Bogor, meninggal kemarin.

6.13 Hubungan Perbandingan

Hubungan perbandingan terdapat dalam kalimat majemuk bertingkat yang klausa subordinatif dan klausa utamanya mempunyai unsur yang sama yang tarafnya sama (ekuatif) atau berbeda (komparatif).

Klausa subordinatif perbandingan selalu mengalami pelesapan. Unsur yang dilesapkan adalah unsur yang menyatakan sifat yang terukur yang ada pada klausa utama dan klausa subordinatif.

a. Hubungan ekuatif

Hubungan ekuatif muncul bila hal atau unsur pada klausa subordinatif dan klausa utama yang diperbandingkan sama tarafnya. Perhatikan contoh berikut.

(1) Gaji istrinya sama besar dengan gaji saya.

(2) Ingatannya sekarang tidak setajam ingatannya dahulu.

b. Hubungan komparatif

Hubungan komparatif muncul bila hal atau unsur pada klausa subordinatif dan klausa utamanya yang diperbandingkan berbeda tarafnya. Perhatikan contoh berikut.

(1) Dia lebih cepat mengetik dengan komputer daripada (dia mengetik) dengan mesin tik.

(2) Pembantu saya lebih senang menonton film India daripada film Barat.

6.14 Hubungan Optatif

Hubungan optatif terdapat dalam kalimat majemuk bertingkat yang klausa utamanya menyatakan ‘harapan’ agar apa yang dinyatakan dalam klausa subordinatif dapat terjadi. Perhatikan contoh berikut ini.

(1) Kita berdoa semoga kemalangan ini segera teratasi.

(2) Ayah dan ibu berdoa mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan ujian ini dengan lancar.

7. SIMPULAN

Dari beberapa pengertian kalimat majemuk yang disampaikan oleh ahli tata bahasa, maka dapat disimpulkan bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih yang diantara keduanya dihubungkan oleh kata penghubung (konjungtor). Berdasarkan sifat-sifat hubungan antarklausanya, kalimat majemuk dibedakan menjadi tiga, yaitu kalimat majemuk setara (kalimat majemuk koordinasi), kalimat majemuk bertingkat (kalimat majemuk subordinasi), dan kalimat majemuk campuran.

Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya setara atau sederajat dan diantara keduanya dihubungkan oleh konjungtor. Konjungtor yang digunakan untuk menyusun hubungan koordinasi, yaitu dan, atau, tetapi, serta, lalu, kemudian, lagipula, hanya, padahal, sedangkan, baik… maupun, tidak… tetapi…., dan bukan(nya)… melainkan….

Ciri-ciri sintaksis dari kalimat majemuk adalah adanya konjungsi koordinasi dan posisi klausa yang diawali konjungsi koordinasi tidak dapat diletakkan di awal kalimat. Sedangkan ciri semantis dalam hubungan koordinasi ditentukan oleh makna dari macam koordinator yang dipakai dan makna leksikal ataupun gramatikal dari kata dan klausa yang dibentuk. Berdasarkan arti koordinatornya, hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk setara ada tiga macam: (a) hubungan penjumlahan, (b) hubungan perlawanan, dan (c) hubungan pemilihan.

Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang terdiri dari dua klausa yang kedudukannya tidak setara dan di antara keduanya dihubungkan dengan subordinator. Subordinator yang biasa dipakai adalah sebagai berikut.

a. Konjungtor waktu: setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga, sampai

b. Konjungtor syarat: jika, kalau, jikalau, asalkan, bila, manakala

c. Konjungtor pengandaian: andaikan, seandainya, andaikata, sekiranya

d. Konjungtor tujuan: agar, supaya, biar

e. Konjungtor konsesif: biarpun, meskipun, sungguhpun, sekalipun, walaupun, kendatipun

f. Konjungtor pembandingan atau kemiripan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, bagaikan, laksana, daripada, alih-alih, ibarat

g. Konjungtor sebab atau alasan: sebab, karena, oleh karena

h. Konjungtor hasil atau akibat: sehingga, sampai(-sampai)

i. Konjungtor cara: dengan, tanpa

j. Konjungtor alat: dengan, tanpa

Ciri-ciri sintaksis kalimat majemuk bertingkat adalah ditandai adanya konjungsi subordinasi, klausa yang diawali konjungsi subordinasi dapat diletakkan di awal kalimat, hubungan subordinatif memungkinkan adanya acuan kataforis, dan pada umumnya kehadiran konjungsi subordinasi dalam hubungan subordinasi bersifat wajib. Sedangkan ciri-ciri semantisnya adalah klausa yang mengikuti konjungsi subordinasi memuat informasi atau pernyataan yang dianggap sekunder oleh pemakai bahasa, sedangkan klausa yang lain memuat pesan yang utama. Di samping itu, karena klausa yang mengikuti konjungsi subordinasi itu bersifat melengkapi atau menerangkan klausa yang lain, maka secara semantis klausa itu dapat disubstitusi dengan frasa yang menduduki fungsi keterangan atau komplemen klausa yang lain. Makna hubungan semantis antarklausa dalam kalimat luas tak setara dapat berupa hubungan waktu, hubungan syarat, hubungan tujuan, hubungan konsesif, hubungan pembandingan, hubungan sebab atau alasan, hubungan akibat, hubungan cara, hubungan penjelasan, hubungan atributif, dan hubungan optatif.

Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang terdiri dari tiga klausa atau lebih, dimana ada yang dihubungkan secara koordinatif dan ada pula yang dihubungkan secara subordinatif. Jadi, kalimat ini merupakan campuran dari kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

8. DAFTAR RUJUKAN

Alwi, Hasan, dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai

Pustaka.

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Ibrahim, Abd. Syukur, dkk.-. Sintaksis Bahasa Indonesia. Malang: Universitas

Negeri Malang.

Jamiludin, Djamid. 1994. Bahasa Indonesia Untuk Kelas 3 SMA. Bandung: SSC.

Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.

Suparno. 1991. Ciri Struktural Kalimat Bahasa Indonesia. Malang: Universitas

Negeri Malang.

1 komentar:

  1. Makasih bgt bro info nya, sangat bermanfaat. hehe
    Jangan Lupa mampir ke blog Lowongan Kerja Terbaru ane ya Lowongan Kerja BUMN PT Pertamina (Persero)

Leave a Reply

Featured Video

Photos